Selasa, 21 Juli 2015

Esensi Yang Keliru

Cinta adalah hal yang diinginkan oleh setiap insan di seluruh dunia. Tentu setiap insan butuh cinta. Bayangkan jika cinta tidak ada, tentunya dunia seakan terasa gersang, tak ada penyejuk yang mendinginkan amarah yang menggejolak ataupun pelita yang mampu menerangi qalbu yang gelap. Namun kepada siapakah kita memberikan cinta kita ? Tentu yang pertama kepada Allah SWT, lalu kepada Rasulullah SAW, kedua orang tua, dan orang orang yang ingin kita cintai. Namun bagaimana bila esensi dari kata yang indah tersebut disalah artikan, misalnya kita berikan cinta kita kepada kerabat atau teman yang kita sukai, lalu menjadikannya sebagai kekasih ? Berarti ini konsep cinta salah kaprah.
Cinta adalah sebuah dorongan dari qalbu yang memberikan kedamaian bagi siapa saja yang mendambakannya, sedangkan hal semacam itu adalah dorongan hawa nafsu yang menginginkan pelakunya terjebak dalam lubuk dosa. Contoh bila orang sedang berdua-duaan, apa yang antum bayangkan ? Pegangan tangan, pelukan, suap-suapan “pecawat nya dateng ayankk, aa....” *yang ini sedikit menjijikan, dan bahkan bisa jadi merambah ke hal-hal yang tidak kita inginkan, bisa dibayangkan berapa banyak dosa yang ia panen, karena hal-hal tersebut cenderung mendekati zina, pernah dengar ayat yang berbunyi “Janganlah kamu mendekati zina” ? Kalau pernah dengar pasti kita akan menjauhi hal-hal tersebut. Dan apa konsekuensi dari orang yang berzina ? Rajam, seperti yang tertera dalam Al-Qur’an dan Hadits. Namun apakah itu berlaku di Negeri ini ? tidak, karena Al-Qur’an hanya dijadikan sebagai reformasi belaka, ulama tidak pernah dianggap ada, Ironis ? memang begitu kenyataannya, mereka yang berbuat zina hanya dipenjara, tetapi tetap saja banyak yang melakukannya, mengapa ? Karena hukum di Negeri ini tidak membuat efek jera bagi pelaku nya dan dosanya tidak rontok walaupun pelakunya dipenjara.
Lupakan hal tersebut, dan didalam hal seperti itu, bisa jadi itu merupakan pelatihan bagi orang orang yang berniat menjadi penjilat. Contoh “Aku cayank kamoeh dehh, tapi beliin aku pulsa dong”, maksud licik ini dapat terbalut dengan untaian kata yang dapat meluluhkan orang yan menjadi pasangannya, maksud sayang atau pengeretan ?. Mungkin itu saja yang dapat saya telusuri mengenai konsep cinta salah kaprah ini, moga-moga siapapun yang membaca ini akan segera sadar dan mendapat hidayah dari Allah SWT. Sekian terima kasih, Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Maksud Allah adalah cahaya langit dan bumi

 

1.  Yang dimaksud dengan “nur” (cahaya) pada ayat “Allahu nur al-Samawat wa al-Ardh” (Allah adalah cahaya langit dan bumi) tentu saja bukan cahaya indrawi dan empirik. Karena cahaya empirik dan indrawi merupakan tipologi dan kualitas materi yang melekat pada benda. Dan terdapat dalil-dalil rasional yang menafikan kejasmanian Tuhan, sehingga menjadi penghalang bagi kita untuk menyebut cahaya tersebut sebagai cahaya empirik material.
Di samping itu, banyak ayat-ayat Ilahi yang mengingkari pencerapan indrawi dan keserupaan segala sesuatu bagi Allah Swt, yang menegaskan sebuah dalil Qur’ani yang menafikan kejasmanian Tuhan. Dengan demikian, apabila dikatakan bahwa “Allah Swt adalah cahaya langit dan bumi” tentu saja yang dimaksud bukan cahaya empirik atau indrawi.
2.  “Cahaya” adalah sesuatu yang secara esensial benderang dan menerangi yang lain. Artinya ia sendiri adalah terang dan sekaligus menerangi. Nyata dan menyatakan.Nampak dan menampakkan. Apakah cahaya itu adalah cahaya empirik, seperti cahaya mentari, bintang-gemintang, dan pelita, atau cahaya non-empirik seperti ilmu dan iman.
Akan tetapi makna cahaya yang pertama kali melintas dalam benak adalah cahaya empirik. Namun dengan menelisik pada makna “nur” yaitu “zhahir bidzat wa muzhir lighairi” (terang secara esensial dan menerangi yang lain). Dan dengan menganalisa “cahaya” ini, maka yang benar adalah menyebut cahaya sebagai urusan maknawi yang menerangi jiwa dan batin manusia. Sebagaimana al-Qur’an menyebut “iman” sebagai cahaya yang diberikan kepada kaum beriman. Adapun kaum urafa menyebut “cinta” sebagai cahaya.
3.  Mengingat Dzat Allah Swt adalah terang dan nyata yang menjadi penyebab benderang dan nyatanya segala sesuatu yang lain karena Dia adalah Sang Pencipta dan Pengada segala sesuatu. Penyebutan redaksi “Nur” bagi Tuhan merupakan penyebutan yang benar. Karena wujud segala sesuatu menjadi penyebab munculnya sesuatu yang lain maka harus dikatakan bahwa obyek sempurna cahaya adalah “Wujud”. Oleh itu, Allah Swt adalah obyek paling sempurna “Cahaya” dan yang terang secara esensial dan menerangi yang lain. Dengan demikian harus diakui bahwa Dia adalah Cahaya yang dengan perantara-Nya langit dan bumi menjadi benderang dan mengada.
4.  Penyebutan langit-langit dan bumi merupakan kiasan dari seluruh semesta dan seluruh makhluk yang tinggi (‘ulya) dan rendah (sufla), dunia ghaib dan alam syahadah (dunia), bukan semata-mata langit yang berada di atas kepala kita. Karena itu, makna “Allah nur al-Samawat wa al-Ardh” adalah bahwa Allah Swt adalah Cahaya seluruh semesta.
Adapun pada ayat disebut sebagai “cahaya” dan bukan “pencipta” adalah untuk mengingatkan pada satu poin dan poin itu adalah bahwa “cahaya” adalah terang dan tidak memerlukan sesuatu yang meneranginya. Allah Swt juga adalah jelas, terang dan benderang. Dan untuk mengenal-Nya tidak diperlukan adanya media yang menerangkan atau menjelaskan-Nya. Sebagaimana para urafa, mengikut para Imam Maksum, berkata bahwa seluruh makhluk harus dikenal melalui pancaran Wujud dan Cahaya Tuhan bukan mengenal Tuhan melalui perantara makhluk. Bagi para wali Allah, segala sesuatu dalam pancaran Wujud Tuhan adalah jelas dan benderang. Dan tiada sesuatu yang terlihat dan terang selain Cahaya-Nya. Dan apabila Cahaya Ilahi tiada, segala sesuatu dalam kegelapan. Karena itu, yang dapat disimpulkan dari ayat ini adalah: Allah Swt bukanlah Entitas yang tidak dapat dikenal oleh siapa pun, lantaran wujudnya segala sesuatu bersumber dari Wujud dan ekspresi Wujud-Nya. Allah Swt tidak tersembunyi sehingga harus disingkap oleh makhluk-makhluk-Nya. Sebaliknya, Dia menjelma dengan seluruh jelmaan dan tersembunyi-Nya Dia dari pandangan para pemilik makrifat, boleh jadi lantaran intensitas Cahaya-Nya, “Yaa Man Huwa Ikhtafâ Lifirt Nurihi, al-Zhâhir al-Bâtin fii Zhuruhi.” (Wahai Yang Menghilang lantaran gemerlapnya cahaya-Nya, lahir dan batin pada penampakan-Nya)
5.  Poin yang lain dari ayat ini yang dapat kita simpulkan adalah bahwa kita menyebut Tuhan sebagai “Cahaya” akan tetapi kita tidak menyebutnya sebagai “Nur A’zham”. Dan  demikianlah keyakinan puak Manikeanisme (Manicheanism) yang memandang Tuhan sebagai “Cahaya Terbesar” (Nur A’zham), artinya adalah bahwa satu cahaya empirik di samping cahaya-cahaya yang lain namun cahaya ini adalah cahaya yang paling besar dan agung. Tentu saja keyakinan seperti ini adalah keyakinan yang keliru dan tidak benar. Tuhan dalam pandangan al-Qur’an adalah “Cahaya murni” (Nur Mahdh) dan non-empirik, yaitu Dialah satu-satunya Cahaya di alam semesta, dan segala sesuatu selain-Nya adalah kegelapan “Zhulmat”. Sesuai dengan redaksi doa, Cahaya Tuhan adalah “Nur al-Nur” yang berarti bahwa Dia adalah Cahaya sejati dan sekiranya ada cahaya yang lain maka cahaya itu berkat Wujud dan Cahaya Tuhan.
6.  Dalam tafsir, takwil dan tatbiq ayat ini, terdapat ragam pendapat dan pandangan dimana untuk mengetahui hal tersebut lebih jeluk Anda dapat merujuk pada kitab-kitab tafsir dan hadis terkait.
Tanpa ragu, bahwa tatkala al-Qur’an menyebut Allah Swt sebagai “Nur” sebagaimana dalam ayat “Allah Nur al-Samawat wa al-Ardh” (Qs. Al-Nur [24]:35)  maka yang dimaksud bukanlah cahaya empirik dan kasat mata. Cahaya empirik dan kasat mata adalah salah satu makhluk dari makhluk-makhluk Tuhan, sebagaimana Al-Qur’an menyebutnya demikian pada surah al-An’am (6), ayat pertama, “Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka.”
Para filosof, teolog dan penafsir al-Qur’an masing-masing mengemukakan pelbagai dalil yang kuat yang menafikan kejasmanian Tuhan.[1] Dari sini, penyebutan “Cahaya” bagi Tuhan tidak dapat bermakna cahaya empirik dengan title benda atau dari tipologi benda dan melekat pada benda.
Di antara para mufassir-teolog, boleh jadi “Fakhrurazi” melebihi yang lain dalam mengupas masalah ini. Terkait dengan penafsiran “Allah nur al-Samawati wa al-Ardh”, ia mengemukakan enam burhan (argumen) yang menafikan kejasmanian dan kebendaan Tuhan. Fakhrurazi menyebutkan bahwa cahaya yang disebutkan pada ayat ini tidak dapat dimaknai sebagai cahaya empirik dan material.[2] Yang lebih penting, terdapat banyak ayat dalam al-Qur’an yang mengingkari kejasmanian Tuhan. Di samping yang telah dijelaskan, ayat “laisa kamitslihi syai” disebutkan berulang kali dalam al-Qur’an, yang menafikan segala jenis keserupaan dan kemiripan bagi Tuhan. Karena itu, Cahaya Tuhan bukan jenis cahaya empirik lantaran cahaya ini banyak yang menyerupai dan mirip dengannya.

Makna Cahaya

Allamah Thabathabai dalam mengurai makna redaksi “Nur” berkata, “Redaksi cahaya memiliki makna yang popular. Adapun makna cahaya adalah sesuatu yang menyala tatkala kita memandang sesuatu dan segala sesuatu menjadi benderang dan nampak karenanya. Akan tetapi cahaya itu sendiri secara esensial tersingkap dan nampak bagi kita dan tiada sesuatu yang lain yang menampakkannya; oleh itu cahaya adalah “nyata dan terang dengan sendirinya (secara esensial) dan menerangi yang lain (al-zhahir bidzatihi al-muzhir lighairih).”[3]
Karena itu, pertama-tama yang dapat dipahami pada redaksi “Nur” (Cahaya) adalah cahaya empirik yang memendar dari benda yang bercahaya seperti matahari, bintang-gemintang, pelita dan lampu-lampu yang diciptakan manusia, dimana apabila cahayanya tiada maka semesta akan mengalami kegelapan dan dengan keberadaannya suasana semesta menjadi benderang.
Akan tetapi hakikat dan definisi akurat tentang cahaya dalam pandangan fisikawan merupakan sesuatu yang lain. Dan boleh jadi menurut mereka bahwa hakikat cahaya sama sekali belum ditemukan atau mereka berbeda pandangan terkait hakikat cahaya. Apa yang pasti bahwa di alam materi ini terdapat sesuatu yang bernama “cahaya” yang memendar dari benda-benda nurani dan umumnya benda-benda ini disebut sebagai “sumber cahaya.” Akan tetapi penyebutan redaksi “nur” cahaya tidak terbatas pada cahaya empirik, akan tetapi terkait dengan segala sesuatu yang “terang dan menerangi” atau dengan redaksi lain “nampak dan menampakkan”. Misalnya tentang ilmu kita berkata, “Ilmu adalah cahaya” lantaran pada esensialnya[4] terdapat penerangan dan menerangi pelbagai realitas.
Sebagaimana al-Qur’an menuturkan terkait kaum beriman, “Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar darinya?” (Qs. Al-An’am [6]:122) Karena itu, dalam budaya al-Qur’an, iman disebut sebagai cahaya. Lantaran iman memberikan penerangan pada hati dan batin seorang mukmin. Menunjukkan tujuan dan obyek kepadanya serta membimbingnya kepada kebahagiaan. Penyebutan cahaya dalam hal ini adalah benar adanya. Sebagaimana kaum urafa menyebut cinta (isyq) sebagai “cahaya”. Rumi bersenandung dengan syair indah:

Isyq adalah sang jawara dan aku takluk di hadapan cinta

Lantaran aku benderang bak purnama yang berasal dari cinta.[5]

Penyebutan Cahaya bagi Tuhan

Penyebutan cahaya bagi Tuhan adalah benar adanya karena dalam al-Qur’an dan riwayat, tercatat penyebutan sedemikian.[6] Akan tetapi harus diperhatikan bahwa apabila kita berkata “Tuhan adalah Cahaya” maka yang dimaksud cahaya di sini bukanlah cahaya empirik dan materi. Yang dimaksud cahaya di sini adalah bahwa Dzat Ilahi, adalah dzat yang Nampak dan menampakkah, terang dan menerangi, tampak dan terangnya segala sesuatu bersumber dari pancaran Dzat-Nya akan tetapi Dia sendiri adalah tampak dan benderang, tiada sesuatu yang membuatnya nampak dan benderang. Dengan demikian, kita dapat berkata, “Tuhan adalah cahaya.”
Allamah Thabathabai berkata, “Lantaran wujud dan keberadaan segala sesuatu menjadi sebab penampakan segala sesuatu yang lain maka obyek sempurna cahaya adalah Wujud itu sendiri. Dan dari sisi lain, lantaran eksisten dan entitas kontingen diadakan oleh Allah Swt maka Allah Swt merupakan obyek sempurna (mishdâq akmal) cahaya. Dia Tampak dengan sendirinya dan segala sesuatu yang lain, dan segala entitas nampak dan mewujud melalui perantara-Nya. Karena itu, Allah Swt adalah cahaya yang melalui-Nya langit-langit dan bumi menjadi nampak, dan demikianlah yang dimaksud dengan ayat “Allah nur al-Samawat wa al-Ardh.”[7]

Makna Allah Cahaya Langit dan Bumi

Dari apa yang telah disebutkan menjadi jelas bahwa apabila kita berkata “Allah Cahaya langit dan bumi” maka hal itu bermakna bahwa Allah itu terang dan menerangi. Pencipta langit dan bumi. Redaksi langit-langit dan bumi menandaskan seluruh semesta, keberadaan, seluruh makhluk yang tinggi dan rendah, alam ghaib dan alam dunia.[8] Tidak semata-mata bermakna semata langit-langit yang berada di atas kepala kita ini atau bumi yang kita jejak ini. Karena itu, makna ayat adalah bahwa “Allah adalah cahaya seluruh semesta.” Redaksi yang digunakan di sini adalah “cahaya” bukan “pencipta” maksudnya adalah untuk menarik perhatian terhadap masalah ini bahwa sebagaimana cahaya itu adalah terang secara esensial dan tidak membutuhkan pada sesuatu yang lain untuk meneranginya, ia juga menerangi (muzhir) dan memberikan cahaya kepada yang lain, demikian juga adanya dengan Allah Swt yang tidak memerlukan sesuatu untuk menampakkan atau menerangi-Nya. Dia adalah Entitas dan Eksisten yang Nampak, Terang, Jelas dan Gamblang. Penalaran untuk menetapkan Wujud-Nya tidak memerlukan media. Dan Dialah Penampak dan Pengada seluruh entitas dan eksiten di alam semesta. Menukil Haji Sabzawari, “Yaa Man Huwa ikhtafa lifirthi Nurihi.”[9] (Wahai yang menghilang lantaran gemerlapnya cahaya-Nya).
Dengan demikian, sebagaimana urafa (mengikuti irfan para nabi dan imam As) menjelaskan Tuhan menjelma dalam artian dan penerangan sempurna. Dan untuk memusatkan perhatian dan peringatan kepada-Nya, tidak diperlukan media makhluk-makhluk-Nya. Dengan kata lain, untuk menalar wujud Tuhan maka yang harus digunakan adalah burhan limmi bukan burhan inni.[10] Pertama-tama Tuhan yang harus dikenal dan berangkat dari pengenalan terhadap-Nya manusia dapat memahami  seluruh makhluk-Nya. Bukan sebaliknya. Pertama-tama mengenal makhluk-Nya kemudian dengan mengenal makhluk-Nya maka Tuhan dapat dikenal.
 Sebagaimana dalam doa Arafah Imam Husain As disebutkan, “Ilahi turaddidu fii al-atsar yujibu ba’da al-mizar” Tuhanku! Perhatian kepada karya dan seluruh makhluk-Mu telah membuatku jauh dari persuaan dan ziarah kepada-Mu.”  Amirul Mukminin dalam doa Kumail lamat-lamat merintih dalam doa, “Binur Wajhika alladzi Adha’ lahu Kullu Syai.“ (Dengan (perantara) cahaya wajah-Mu yang menerangi segala sesuatu)”[11]
Apabila bukan karena cahaya wajah-Mu dan Dzat-Mu maka seluruhnya dalam kegelapan. Artinya segala sesuatu tiada dan segala sesuatu pada kegepalan ketiadaan. Apabila bukan karena cahaya Dzat-Mu segala sesuatu dalam kegelapan “ketiadaan.” Bukan segala sesuatu berada pada kegelapan seperti kegelapan malam. Oleh itu, harus dikatakan bahwa: Allah Swt adalah murni cahaya. Dan di hadapan-Nya tiada satu pun yang bercahaya dan segala cahaya di hadapan-Nya adalah kegelapan (zhulmat), lantaran hanya pada Entitas yang pada Dzat-Nya nampak dan menampakkan. Terang dan menerangi hanyalah Tuhan; segala sesuatu yang lain apabila ia nampak dan menampakkan, terang dan menerangi maka sesungguhnya pada dzat mereka adalah “kegelapan,” dan Tuhanlah yang menjadikan mereka “nampak” dan “menampakkan.”[12]
Dari sini, Allamah Thabathabai sangat indah menyimpulkan ayat ini, “Karena itu dapat disimpulkan bahwa Allah Swt tidak majhul (misterius) bagi segala entitas dan eksisten, karena nampaknya segala sesuatu bagi diri mereka atau bagi yang lain bersumber dari penampakan Tuhan, apabila Tuhan tidak menampakkan dan mewujudkan sesuatu maka mereka tidak akan nampak; dengan demikian sebelum segala sesuatu, Allah nampak dan terang secara esensial. Maka kesimpulan yang dapat diambil dari apa yang dimaksud dengan “Cahaya” pada redaksi ayat “Allah cahaya langit dan bumi” cahaya Tuhan yang menjadi sumber penciptaan semesta. Sebuah cahaya yang dengan perantaranya segala sesuatu tercahayai dan benderang, dan “wujud” segala sesuatu sama, dan inilah rahmat Ilahi yang berlaku secara umum.”[13]
Karena itu, menurut kosa kata al-Qur’an, Allah Swt bukanlah sosok yang ghaib dan tersembunyi secara esensial sehingga Dia nampak dan tersingkap melalui seluruh makhluk dan alam penciptaan, langit dan bumi. Melainkan makrifat sedemikian adalah makrifat yang lemah dan tidak sempurna. Makrifat sejati adalah bahwa alam semesta dikenal melalui perantara Tuhan, bukan Tuhan dikenal melalui perantara semesta. Dan ayat ini menegaskan bahwa Allah Swt berada pada kesempurnaan penyingkapan, penerangan dan kegamblangan.

Cahaya atau Cahaya Terbesar

Poin lainnya yang dapat disimpulkan dari ayat adalah bahwa kita berkata cahaya kepada Tuhan namun kita tidak berkata cahaya terbesar yang bermakna bahwa kita memiliki banyak cahaya dimana di antara cahaya tersebut ada yang lebih besar dan ada yang lebih kecil. Di antara cahaya-cahaya ini, cahaya Tuhan yang terbesar.
Pandangan al-Qur’an di sini menegaskan bahwa hanya ada satu cahaya dan cahaya tersebut adalah Tuhan dan lainnya adalah kegelapan dan ketiadaan. Dalam membandingkan segala sesuatu dengan yang lain satu adalah cahaya dan yang lainnya adalah non-cahaya. Misalnya ilmu, iman dan akal adalah cahaya. Akan tetapi ketiganya mendulang cahaya dari Tuhan. Karena itu, di hadapan Tuhan, ketiganya bukanlah cahaya. Atau dengan kata lain, Allah Swt adalah “Nur al-Nur”,[14] artinya cahaya segala cahaya bukan cahaya terbesar. Dengan demikian, keyakinan yang disandarkan kepada Manikanisme yang menyebut Tuhan sebagai “cahaya terbesar” sejatinya memandang Tuhan sebagai cahaya empirik, akan tetapi cahaya Tuhan adalah cahaya teragung dan terbesar di alam semesta. Bagaimanapun, siapa saja yang menerima keyakinan ini, maka sesungguhnya keyakinan ini adalah keyakinan yang salah dan batil.[15]
Akhir kata, kami akan menyinggung sebuah riwayat yang dinukil dari Imam Ridha As dalam menjawab pertanyaan Abbas bin Hilal terkait “Allah Nur al-Samawat wa al-Ardh”, beliau bersabda: “Petunjuk bagi penduduk langit dan petunjuk bagi penghuni bumi.”[16]

Beberapa referensi untuk telaah lebih jauh:

1.  Tafsir Maudhui Qur’an Karim, Abdullah Jawadi Amuli, jil. 12, Fitrat dar Qur’an, hal. 291-297 dan Wahy wa Nubuwwat dar Qur’an, jil. 3, hal. 138-140.
2.  Tauhid Shaduq.
3.  Tafsir al-Mizan, jil. 15, Surah Nur, Muhammad Husain Thabathabai.
4.  Tafsir al-Kabir, jil. 23, Fakhrurazi, tafsir ayat “Allah Nur al-Samawat wa al-Ardh.”
5.  Tafsir-e Sure-ye Nur, Murtadha Muthahhari.
6.  Tafsir Nemune, jil. 14, Tafsir Surah Nur, Nasir Makarim Syirazi.
7.  Tafsir Burhan, Hasyim Bahrani.

[1]. Silahkan lihat Kasyf al-Murâd fii Syarh Tajrid al-I’tiqâd, hal. 287, Muassasah Imam Shadiq As; Allamah Thabathabai, Nihâyat al-Hikmah, hal. 275.
[2]. Fakhrurazi, al-Tafsir al-Kabir, jil. 22, hal. 224.
[3]. Allamah Thabathabai, Al-Mizan fii Tafsir al-Qur’an, terjemahan Musawi Hamadani, jil. 15, hal.  172.
[4]. Murtadha Muthahhari, Tafsir-e Surah-ye Nur, hal. 101.   
[5]. Jalaluddin Rumi, Matsnawi, Daftar-e Syisyum.
[6].  “Nur” adalah salah satu nama Allah Swt sebagaimana yang disebut al-Qur’an sebagai Nur, penyebutan ini juga dapat dijumpai pada banyak riwayat. Dan “Nur” ini adalah salah satu dari 99 nama Tuhan.  Silahkan lihat, Shaduq, Tauhid, bab 29, hal. 194, hadis ke-8 dan hal. 195, hadis ke-9, dan hal. 219, hadis ke-11…; Al-Khisâl, jil. 2, bab 80, hal. 593, hadis ke-4. Pada kebanyakan doa seperti: Doa Jausyan Kabir dan Doa Kumail dan sebagainya nama Tuhan disebut dengan nama “Nur” ini. Urafa Islam juga, mengemukakan pembahasan terkait nama-nama Tuhan dimana akan kita mengupasnya pada kesempatan lain.
[7]. Allamah Thabathabai, Op Cit, jil. 15, hal. 172.
[8]. Murthadha Muthahhari, Op Cit, hal. 98.
[9]. Mulla Hadi Sabzawari, Manzhumah, bag. Hikmah.
[10]. Untuk mengenal lebih jauh tentang jenis-jenis argumentasi dan penalaran, silahkan Anda lihat kitab-kitab Logika (Mantiq), bagian Shana’at Khams, bagian Burhan.
[11]. Mafatih al-Jinan, Doa Kumail.
[12]. Murtadha Muthahhari, Op Cit, hal. 102.
[13]. Allamah Thabahthabai, Op Cit, jil. 15, hal. 173.
[14]. Dalam kitab Mafatih al-Jinan disebutkan redaksi “Nur”: “Yaa Nur..Yaa Nur al-Nur..” dan demikian juga pada Doa Jausyan Kabir disebutkan redaksi seperti ini.
[15]. Murtadha Muthahhari, Op Cit, hal. 104 dan catatan kaki, hal. 99.
[16]. Shaduq, Tauhid, bab 15, hadis pertama; Sayid Hasyim Bahrani, Tafsir Burhan, jil. 3, penafsiran ayat terkait.

Sumber :  http://quran.al-shia.org

MENINGKATKAN KUALITAS KEIMANAN DAN KETAQWAAN


Agama mempunyai peranan penting dalam mewujudkan bangsa Indonesia yang berakhlak, maju, mandiri dan sejahtera lahir batin dalam suasana kehidupan yang serba selaras dan berkeseimbangan. Sejalan dengan itu, pembangunan agama sebagai bagian tak terpisahkan dari pembangunan nasional diarahkan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, meningkatkan kerukunan kehidupan umat beragama, meningkatkan peran serta umat dalam pembangunan, serta meningkatkan pendidikan agama dan keagamaan pada semua jalur, jenis, dan jenjang pendidikan. Dalam upaya meningkatkan keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sarana dan prasarana ibadat berbagai agama terus ditingkatkan baik jumlah maupun kualitasnya. Dalam rangka membina kerukunan hidup antar umat beragama sehingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa yang harmonis, kegiatan musyawarah antar umat beragama terus ditingkatkan. Kegiatan yang dilakukan meliputi antara lain musyawarah antar umat beragama, musyawarah antara umat berbagai agama, dan musyawarah cendekiawan berbagai agama.
Adapun cara meningkatkan kadar keimanan sesuai dengan agama islam adalah sebagai berikut :
          
1.         Pelajarilah berbagai ilmu agama Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan Hadits

            a.         Perbanyaklah membaca Al-Qur’an dan renungkan maknanya.

          Ayat-ayat Al-Qur’an memiliki target yang luas dan spesifik sesuai kebutuhan masing-masing  orang yang sedang mencari atau memuliakan Tuhannya. Sebagian ayat Al-Qur’an mampu    menggetarkan kulit seseorang yang sedang mencari kemuliaan Allah, dilain pihak Al-Qur’an mampu membuat menangis seorang pendosa, atau membuat tenang seorang pencari ketenangan.

   “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS, Shaad 38:29) ”Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang lalim selain kerugian.” (QS, al-Israa’ 17:82)

            b.         Pelajarilah ilmu mengenai Asma’ul Husna, Sifat-sifat Yang Maha   Agung.Bila seseorang memahami sifat Allah yang Maha Mendengar, Maha Melihat dan Maha Mengetahui, maka ia akan menahan lidahnya, anggota tubuhnya dan gerakan hatinya dari apapun yang tidak disukai Allah. Bila seseorang memahami sifat Allah yang Maha Indah, Maha Agung dan Maha Perkasa, maka semakin besarlah keinginannya untuk bertemu Allah di hari akhirat sehingga iapun secara cermat memenuhi berbagai persyaratan yang diminta Allah untuk bisa bertemu dengan-Nya (yaitu dengan memperbanyak amal ibadah).

              c.           Pelajari dengan cermat sejarah (Siroh) kehidupan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalaam. Dengan memahami perilaku, keagungan dan perjuangan Rasulullah, akan menumbuhkan rasa cinta kita terhadapnya, kemudian berkembang menjadi keinginan untuk mencontoh semua perilaku beliau dan mematuhi pesan-pesan beliau selaku utusan Allah. Seorang sahabat r.a. mendatangi Rasulullah shallahu ‘alaihi wasalaam dan bertanya, “Wahai Rasul Allah, kapan tibanya hari akhirat?”. Rasulullah saw balik bertanya : “Apakah yang telah engkau persiapkan untuk menghadapi hari akhirat?”. Si sahabat menjawab , “Wahai Rasulullah, aku telah sholat, puasa dan bersedekah selama ini, tetap saja rasanya semua itu belum cukup. Namun didalam hati, aku sangat mencintai dirimu, ya Rasulullah”. Rasulullah  Shallahu ‘Alaihi Wasalaam menjawab, “Insya Allah, di akhirat kelak engkau akan bersama orang yang engkau cintai”. (HR Muslim) Inilah hadits yang sangat disukai para sahabat Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasalaam. Jelaslah bahwa mencintai Rasulullah adalah salah satu jalan menuju surga.
2.     Renungkanlah tanda-tanda kebesaran Allah yang ada di alam (ma’rifatullah)
Singkirkan dulu kesombongan akal kita, renungkan secara tulus bagaimana alam ini diciptakan. Sungguh pasti ada kekuatan luar biasa yang mampu menciptakan alam yang sempurna ini, sebuah struktur dan sistem kehidupan yang rapi, mulai dari tata surya, galaksi hingga struktur pohon dan sel-sel atom. Adalah lumrah, bahwa sesuatu yang tidak mungkin diciptakan manusia, pastilah diciptakan sesuatu yang Maha Kuasa, Maha Besar. Inilah yang menambah kecilnya diri kita dan menambah kekaguman dan cinta serta iman kita kepada Sang Pencipta alam semesta ini.

3.         Berusaha keras melakukan amal perbuatan yang baik secara ikhlas
         Amal perbuatan perlu digerakkan. Dimulai dari hati, kemudian terungkap melalui lidah kita dan kemudian anggota tubuh kita. Selain ikhlas, diperlukan usaha dan keseriusan untuk melakukan amalan-amalan ini.

            a.     Amalan Hati

                Dilakukan  melalui  pembersihan  hati kita dari sifat-sifat buruk, selalu  menjaga kesucian hati. Ciptakan sifat-sifat sabar dan tawakal, penuh takut dan harap akan Allah. Jauhi sifat tamak, kikir, prasangka buruk dan sebagainya.


            b.   Amalan Lidah
                 Perbanyak membaca Al-Qur’an, zikir, bertasbih, tahlil, takbir, istighfar, mengirim salam dan   sholawat kepada Rasulullah dan mengajak orang   lain   kepada kebaikan, melarang kemungkaran.
            c.    Amalan Anggota Tubuh
                Dilakukan melalui kepatuhan dalam sholat, pengorbanan untuk bersedekah, perjuangan untuk berhaji hingga disiplin untuk sholat berjamaah di mesjid (khususnya bagi pria).

4.         Adapun sebab-sebab turunnya kadar keimanan :

    Sebab-sebab dari dalam diri kita sendiri (Internal) :
            a.            Kebodohan

           Kebodohan merupakan pangkal dari berbagai perbuatan buruk. Seseorang berbuat   jahat   boleh   jadi   karena   ia  tak tahu bahwa perbuatan itu dilarang agama, atau ia tidak tahu ancaman dan bahaya yang akan dihadapinya kelak di akhirat, atau ia tidak tahu keperkasaan Sang Maha Kuasa yang mengatur denyut jantungnya, mengatur musibah dan rezekinya.


          b.            Ketidakpedulian, keengganan dan melupakan

          Ketidakpedulian menyebabkan pikiran seseorang diisi dengan hal-hal duniawi yang hanya ia sukai (yang ia pedulikan), sedangkan yang bukan ia sukai tidak diberi tempat dipikirannya. Ini menyebabkan ia tidak ingat (dzikir) pada Allah, sifatnya tidak tulus, tidak punya rasa takut dan malu (kepada Allah), tidak merasa berdosa (tidak perlu tobat), dan bisa jadi ia menjadi sombong karena tidak merasakan pentingnya berbuat rendah hati dan sederhana. Kengganan seseorang untuk melakukan suatu kebaikan padahal ia tahu hal itu telah diperintahkan Allah, maka ia termasuk orang yang men-zhalimi (melalaikan) dirinya sendiri. Allah akan mengunci hatinya dari jalan yang lurus (al-Kahfi 18:5), dan ia akan menjadi teman syeitan (Thaaha 20:124).

         c.            Menyepelekan dan melakukan perbuatan dosa

         Awal dari perbuatan dosa adalah sikap menyepelekan (tidak patuh terhadap) perintah dan larangan Allah. Perbuatan dosa umumnya dilakukan secara bertahap, misalnya dimulai dari zinah pandangan mata yang dianggap dosa kecil kemudian berkembang menjadi zinah tubuh. Dosa-dosa kecil yang disepelekan merupakan proses pendidikan jahat (pembiasaan) untuk menyepelekan dosa-dosa besar. Karena itu basmilah dosa-dosa kecil selagi belum tumbuh menjadi dosa besar.


5.         Sebab-sebab dari luar diri kita (External) :

a.          Syaitan

Syaitan   adalah  musuh  manusia.  Tujuan   syaitan   adalah   untuk   merusak keimanan orang. Siapa saja yang tidak membentengi dirinya dengan selalu mengingat Allah maka ia menjadi sarang syaitan, menjerumuskannya dalam kesesatan, ketidak patuhan terhadap Allah, membujuknya melakukan dosa.

b.     Bujukan dan rayuan dunia. Allah Subhanahu WaTa’ala berfirman : “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”. (QS, al-Hadiid 57:20).
         Tujuan hidup manusia seluruhnya untuk akhirat. Apapun kegiatan dunia yang kita lakukan, seperti mencari nafkah,  bertemu teman dan keluarga, seharusnya semua itu ditujukan untuk meraih pahala akhirat.. Dalam situasi dimana tujuan dunia menguasai hati kita maka hanya tersisa sedikit porsi akhirat di hati kita, dan inilah awal dari menurunnya keimanan kita.


Sumber:  http://blekenyek.blogspot.com